Sejarah Hidup Kartini Sebagai Pahlawan Bagi Kaum Wanita

Sepuluh gadis duduk pada ruang kelas pada rumah ayah Raden Adjeng Kartini. di tahun 1903 di Indonesia, pendidikan wanita artinya hal yang langka. akan tetapi Kartini serta adiknya Roekmini sedang mempersiapkan pelajaran hari itu.

Mengajarkan keterampilan mirip pertolongan pertama, mengolah, kebersihan dan kerajinan tangan tradisional. Ini ialah awal yang sederhana bagi populasi wanita pada negara itu, namun permanen sebagai sejarah yg bersejarah.

Raden Adjeng Kartini lahir pada aristokrasi Indonesia — ayahnya bekerja buat pemerintahan kolonial Belanda Judi Slot Online Jackpot Terbesar sebagai gubernur — dan tidak mirip kebanyakan gadis Indonesia di akhir 1800-an, beliau diberi kesempatan untuk bersekolah pada sekolah Belanda.

Pendidikan awal ini membuat ambisi gadis muda itu, membantunya berbagi kecintaan membaca yg berkembang di bawah pengaruh pemikiran konseptual.

Pada usia 12 tahun, seperti yg dipengaruhi sang tradisi sosial, Kartini terpaksa mengundurkan diri asal sekolah, menyisihkan kitab -kitab serta mulai mempersiapkan kehidupan tempat tinggal tangga terpencil dari istri bangsawan.

Tapi beliau pula menghabiskan dekade berikutnya berkorespondensi menggunakan sahabat sekolah Belandanya, mengatakan keprihatinannya tentang kolonialisme serta pembatasan yang menindas yang mendikte tempat perempuan pada masyarakat.

Hera Diani, salah satu pendiri serta editor Magdalene, majalah feminis digital yang berbasis pada Jakarta, mengatakan bahwa Kartini artinya “seorang visioner” yang “berbicara wacana kesetaraan dan feminisme” dan “mencoba menerobos berasal hak istimewanya” dan penindasan kaum bangsawan. kehidupan.

Kartini ingin melihat emansipasi nasionalis melalui pendidikan perempuan , yg poly dia tulis pada surat-suratnya kepada teman-temannya. beliau ingin meyakinkan Belanda bahwa orang Indonesia mandiri, dan surat-suratnya sejak itu melambangkan gerakan kemerdekaan Indonesia dan feminisme negara.

Memang, pada Kartini: The Complete Writings, 1898–1904, sejarawan Joost Coté mencatat bahwa surat-surat Kartini mendokumentasikan momen krusial dan titik kembali dalam sejarah kolonial Indonesia.

Selesainya terpaksa putus sekolah, Kartini berhasil membujuk ayahnya untuk membiarkannya terus belajar. beliau belajar buat menjadi guru; pada tahun 1903, pada usia 24 tahun, dia membuka SD pertama buat anak wanita pribumi pada tanah milik ayahnya.

Pada bulan November tahun yang sama, beliau dipaksa menikah secara poligami dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang, yg usianya hampir dua kali lipat berasal usianya. tetapi semangat Kartini tidak surut: ia terus menjalankan sekolahnya dan berencana membuka lebih banyak lagi.

Sayangnya, feminis pemula meninggal hanya satu tahun kemudian, di tahun 1904, dari komplikasi ketika melahirkan. pada tahun 1911, Jacques Henrij Abendanon, mantan menteri kebudayaan, seni dan kepercayaan Hindia Belanda, menerbitkan surat-surat Kartini.

Door duisternis tot licht (Melewati Gelap menjadi terang) terbukti begitu terkenal di Belanda sehingga Belanda mendirikan Yayasan Kartini, yg pada tahun 1916 memotong pita di sekolah putri pertama di Jawa. 30 sekolah Kartini lainnya dibuka pada semua negeri setelahnya. dalam Encyclopedia of Women Social Reformers, Helen Rappaport berpendapat bahwa surat-surat Kartini “dimanfaatkan dengan baik oleh para reformis kolonial Belanda.”